Fisnack Sulap Kulit Ikan Patin Jadi Camilan Istimewa
11 August 2025 |
20:25 WIB
Varian produk kulit ikan patin Fisnack. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Bagi sebagian orang, kulit ikan patin mungkin hanya dianggap limbah. Namun bagi Ciptoyoso, pendiri Fisnack, bahan ini justru menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Dari dapur rumahan, usahanya kini berkembang menjadi produsen camilan premium yang siap menembus pasar ekspor.
“Awalnya, kulit ikan patin ini kan terbuang saat proses fillet. Dagingnya dijual frozen ke restoran, tapi kulitnya tidak dimanfaatkan. Dari situ saya berpikir, bisa enggak ini diolah jadi sesuatu yang punya nilai jual,” ujar Ciptoyoso saat ditemui di bazar SMEXPO Pertamina, Senin (11/8/2025).
Baca juga: 5 Strategi Branding UMKM agar Naik Kelas di Tengah Persaingan Ketat
Setelah melalui uji laboratorium yang menunjukkan kandungan gizi yang baik, Ciptoyoso mantap mengembangkan produk keripik kulit ikan patin dengan berbagai varian rasa.
Prosesnya tidak instan. Selama dua tahun sejak 2019, Ciptoyoso dan mitranya melakukan trial and error, mulai dari kemasan plastik transparan yang dipasarkan di warung, hingga mengurus sertifikasi halal dan BPOM. Titik balik terjadi pada 2021, ketika dia menjadi Mitra Binaan Pertamina setelah direkomendasikan Asosiasi Bisnis Development Services Indonesia (ABDSI) dan melalui proses seleksi serta kurasi yang ketat.
Ciptoyoso bahwa dukungan yang diberikan Pertamina tak hanya berupa akses modal, tetapi juga pelatihan, pendampingan, hingga pembukaan jaringan pemasaran. “Komplit lah. Kita bahkan dapat masuk ke supermarket dan hypermarket serta dibantu dalam proses kemasan sehingga produk lebih layak masuk pasar modern,” ujarnya.
Saat ini Fisnack hadir dalam tiga varian rasa yakni Original, Spicy, dan Salted Egg, dengan Salted Egg sebagai varian terlaris. Untuk pasar offline, Ciptoyoso memasarkan merek Fisnack dengan harga eceran sekitar Rp27.500–Rp30.000 per kemasan. Sementara untuk pasar online, dia menawarkan merek Piktin yang juga merupakan kulit ikan patin tetapi merupakan grade B dengan harga sekitar 25–30 persen lebih murah.
"Untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, kami menghadirkan brand Piktin yang harganya lebih terjangkau," tuturnya.
Penjualan Fisnack kini mencapai sekitar Rp150 juta per bulan, dengan pertumbuhan signifikan terutama dari kanal daring.
Untuk proses pemasaran ke luar negeri, Ciptoyoso sudah melakukan ekspor ke Taiwan dan Sydney, Australia, melalui pihak ketiga. Namun dia juga menargetkan untuk bisa melakukan ekspor secara mandiri ke Kanada dan Selandia Baru.
"Saat ini saya sedang mengurus sertifikat HACCP, syarat penting untuk produk olahan ikan di pasar global," jelasnya.
Perjalanan Fisnack dari awal hingga saat ini tentu saja tidak lepas dari berbagai tantangan. Di awal, masalah terbesar Fisnack adalah membuka akses pasar. Setelah pasar terbuka, tantangan bergeser ke tenaga kerja terampil, pasokan bahan baku standar, hingga permodalan untuk ekspansi.
“Bisnis ini seperti lari maraton. Harus punya nafas panjang dan tujuan jelas. Awal perjalanan pasti banyak pahitnya. Kuncinya, lalui prosesnya, jangan patah semangat, dan bangun jejaring,” pesannya kepada pelaku usaha yang ingin naik kelas.
Dengan mengikuti pameran SMEXPO Pertamina, Ciptoyoso berharap produknya bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di internal ekosistem Pertamina, tetapi juga di pasar umum. Ciptoyoso menargetkan Fisnack dapat terus naik kelas secara konsisten, memanfaatkan pameran tersebut sebagai peluang untuk memperluas jaringan dan menjangkau pasar baru.
Dengan legalitas, sertifikasi lengkap, dan produk unik yang belum banyak pesaing besar, dia optimistis Fisnack akan terus tumbuh, bahkan menjadi pabrikan besar di masa depan.
“Secara produk kita sudah beda, secara legalitas juga siap. Tinggal memperluas pasar dan menjaga kualitas,” tuturnya.
Fisnack merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
“Awalnya, kulit ikan patin ini kan terbuang saat proses fillet. Dagingnya dijual frozen ke restoran, tapi kulitnya tidak dimanfaatkan. Dari situ saya berpikir, bisa enggak ini diolah jadi sesuatu yang punya nilai jual,” ujar Ciptoyoso saat ditemui di bazar SMEXPO Pertamina, Senin (11/8/2025).
Baca juga: 5 Strategi Branding UMKM agar Naik Kelas di Tengah Persaingan Ketat
Setelah melalui uji laboratorium yang menunjukkan kandungan gizi yang baik, Ciptoyoso mantap mengembangkan produk keripik kulit ikan patin dengan berbagai varian rasa.
Prosesnya tidak instan. Selama dua tahun sejak 2019, Ciptoyoso dan mitranya melakukan trial and error, mulai dari kemasan plastik transparan yang dipasarkan di warung, hingga mengurus sertifikasi halal dan BPOM. Titik balik terjadi pada 2021, ketika dia menjadi Mitra Binaan Pertamina setelah direkomendasikan Asosiasi Bisnis Development Services Indonesia (ABDSI) dan melalui proses seleksi serta kurasi yang ketat.

Pendiri Fisnack, Ciptoyoso. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Saat ini Fisnack hadir dalam tiga varian rasa yakni Original, Spicy, dan Salted Egg, dengan Salted Egg sebagai varian terlaris. Untuk pasar offline, Ciptoyoso memasarkan merek Fisnack dengan harga eceran sekitar Rp27.500–Rp30.000 per kemasan. Sementara untuk pasar online, dia menawarkan merek Piktin yang juga merupakan kulit ikan patin tetapi merupakan grade B dengan harga sekitar 25–30 persen lebih murah.
"Untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, kami menghadirkan brand Piktin yang harganya lebih terjangkau," tuturnya.
Penjualan Fisnack kini mencapai sekitar Rp150 juta per bulan, dengan pertumbuhan signifikan terutama dari kanal daring.
Untuk proses pemasaran ke luar negeri, Ciptoyoso sudah melakukan ekspor ke Taiwan dan Sydney, Australia, melalui pihak ketiga. Namun dia juga menargetkan untuk bisa melakukan ekspor secara mandiri ke Kanada dan Selandia Baru.
"Saat ini saya sedang mengurus sertifikat HACCP, syarat penting untuk produk olahan ikan di pasar global," jelasnya.
Perjalanan Fisnack dari awal hingga saat ini tentu saja tidak lepas dari berbagai tantangan. Di awal, masalah terbesar Fisnack adalah membuka akses pasar. Setelah pasar terbuka, tantangan bergeser ke tenaga kerja terampil, pasokan bahan baku standar, hingga permodalan untuk ekspansi.
“Bisnis ini seperti lari maraton. Harus punya nafas panjang dan tujuan jelas. Awal perjalanan pasti banyak pahitnya. Kuncinya, lalui prosesnya, jangan patah semangat, dan bangun jejaring,” pesannya kepada pelaku usaha yang ingin naik kelas.
Dengan mengikuti pameran SMEXPO Pertamina, Ciptoyoso berharap produknya bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di internal ekosistem Pertamina, tetapi juga di pasar umum. Ciptoyoso menargetkan Fisnack dapat terus naik kelas secara konsisten, memanfaatkan pameran tersebut sebagai peluang untuk memperluas jaringan dan menjangkau pasar baru.
Dengan legalitas, sertifikasi lengkap, dan produk unik yang belum banyak pesaing besar, dia optimistis Fisnack akan terus tumbuh, bahkan menjadi pabrikan besar di masa depan.
“Secara produk kita sudah beda, secara legalitas juga siap. Tinggal memperluas pasar dan menjaga kualitas,” tuturnya.
Fisnack merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026